"Tahun kedua saya sudah bilangin, 'Bro kalau kamu mau wakafkan mushaf, menyalurkan mushaf, dicicil saja 50, 100 antar ke masjid. Jangan langsung ribuan seperti itu," tambahnya.
Randy juga menyinggung kejadian pada 2025 ketika Taqy disebut menjadi incaran aparat karena dugaan membuka donasi online tanpa izin resmi otoritas setempat. Dia menyebut program sedekah makanan yang dijalankan Taqy turut menjadi perhatian.
"Dia buka sedekah makanan juga, yang di mana rata-rata harga sedekah makanan di sana itu kurang lebih sekitar 8 riyal, 10 riyal sampai 15 riyal. Itu kurang lebih secara rupiah mungkin dalam Rp50.000-an lah. Tapi dia membuka itu dengan harga Rp100.000 per boks," ujar Randy.
"Akhirnya itu ramai lagi, dicarilah dia oleh polisi sekitar. Sampai yang awalnya dia stay di hotel, dia kabur, dia cari apartemen yang jauh dari masjid saat itu, tahun (2025) itu," lanjutnya.
Terbaru, Randy menilai Taqy belum menghentikan aktivitas tersebut dan kembali membuka donasi edisi Ramadan 2026. Dia mengaku sudah mencoba mengingatkan secara pribadi, namun tidak mendapat respons.
"Masih 2-3 minggu lagi tapi dia sudah membuka peluang itu lagi. Saya bilangin baik-baik, saya DM, 'Afwan brokku gini-gini bla bla bla'. Singkat cerita saya enggak digubris, dan saya lihat dia menyindir saya di Story dan saya di-unfollow. Nah itulah yang membuat 'Ah ini emang enggak bisa'," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dan klarifikasi dari Taqy Malik terkait kasus tersebut.