"Kalau mau Tarawih saja mesti antar kota, karena satu state (negara bagian) itu cuma ada satu masjid. Jadi mesti sekitar 60 km atau 70 km. Tapi di sana Tarawihnya satu juz per hari, imamnya orang Iran," katanya.
Perjalanan puluhan kilometer tersebut menjadi bagian dari perjuangan puasa di AS yang tak terlupakan bagi Terry. Dia harus meluangkan waktu dan tenaga lebih hanya untuk bisa merasakan suasana Ramadan bersama sesama muslim.
Tantangan lain muncul saat dia bekerja sebagai kurir makanan di Amerika Serikat. Dalam kondisi berpuasa, dia tetap harus profesional menjalankan tugasnya mengantar pesanan pelanggan.
"Aku kan kerja kurir makanan, jadi harus nganter wangi-wangi makanan di mobil. Terus aku mesti milih yang diantar ini non-halal apa enggak, karena kan lagi puasa, takutnya enggak berkah kalau nganter babi," ujarnya.
Menurut Terry, pengalaman tersebut justru menguatkan mental dan spiritualnya. Dia belajar tentang arti perjuangan, toleransi, serta pentingnya menjaga prinsip di tengah keterbatasan.
Kini, dia merasa bersyukur bisa kembali menjalani Ramadan di Indonesia dengan suasana yang lebih hangat dan penuh kemudahan. Bagi Terry, pengalaman perjuangan puasa di AS menjadi pelajaran berharga yang tidak akan pernah dia lupakan.