Mengenang Sapardi Djoko Damono, Tidak Menulis saat Emosi

Antara
Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020). (Foto: Antara)

Bukan hanya puisi, Sapardi juga juga banyak menulis cerita pendek, menulis esai, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar. Dia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing.

Beberapa puisinya sangat populer saat ini di antaranya adalah "Aku Ingin", "Hujan Bulan Juni", "Pada Suatu Hari Nanti", "Akulah si Telaga", dan "Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari".

Puisi Sapardi, meski sarat simbolisme namun sajak-sajaknya sederhana. Pilihan kata dan tema yang mudah dipahami pembaca, barangkali sudah jadi ciri khas dia.

"Jangan bikin yang ruwet, sajak itu sesuatu yang sederhana, manusiawi dan terjadi sehari-hari," ujar penyair yang menerima penghargaan SEA-WRITE AWARD dari Thailand pada 1986 itu.

Bahagia saat menulisulis, bagi Bagi Sapardi adalah sumber kebahagiaan. Itu adalah suatu dorongan hati demi mencapai karya terbaik. Semakin sering menulis, semakin bagus pula hasilnya.

Editor : Tuty Ocktaviany
Artikel Terkait
Seleb
1 bulan lalu

Profil Sitok Srengenge, Sastrawan yang Namanya Kembali Viral di Medsos

Seleb
1 bulan lalu

Terseret Polemik Sitok Srengenge, Sal Priadi Kini Lebih Bijak Terima Ajakan Foto Bareng

Seleb
1 bulan lalu

Tegas! Sal Priadi Bantah Bela Sitok Srengenge usai Foto Barengnya Viral

Nasional
2 tahun lalu

Kisah Sastrawan Sapardi Djoko Damono, Menulis untuk Kebahagiaan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal