Menurutnya, keterbatasan dana serta proses perizinan menjadi kendala utama yang membuat rumah singgah tersebut belum bisa difungsikan. Hingga kini, keluarga belum mampu memenuhi kebutuhan administratif maupun biaya operasional yang dibutuhkan.
Nia mengaku keluarga hanya bisa pasrah melihat kondisi bangunan yang semakin rusak seiring waktu. Tidak adanya biaya perawatan membuat kondisi rumah terus menurun dan membutuhkan renovasi besar jika ingin digunakan kembali.
"Pesan almarhum sih kepengennya rumah singgah bisa berjalan untuk membantu anak-anak yang terkena kanker, tapi apa daya ya, keluarga belum bisa mewujudkannya," ujar Nia.
Dia juga memastikan hingga saat ini rumah singgah tersebut belum pernah menerima pasien, sesuai amanah yang diinginkan almarhumah semasa hidupnya.
"Kita enggak jalanin nih. Karena untuk jadi rumah singgah kan prosesnya enggak gampang, butuh perizinan dan biaya besar," ujar Nia.
Nia menyadari rumah singgah ini menjadi salah satu keinginan terbesar Julia Perez sebelum meninggal dunia. Saat itu, almarhumah berharap tempat tersebut bisa menjadi tempat bernaung bagi anak-anak pengidap kanker yang membutuhkan bantuan.
"Pesan almarhum sih kepengennya rumah singgah bisa berjalan untuk membantu anak-anak yang terkena kanker, tapi apa daya ya mas, keluarga belum bisa mewujudkannya terkait kendala dua hal tadi (biaya & perizinan)," kata Nia.