"Tiba-tiba dia datang ke warung di Samali, dengan pakai jaket kulit, dengan senyum ceria, bahagia, tanpa sedikit pun terlihat sakit. Dia ngajak anak-anak berkumpul di warung. Menitipkan pesan. Dia bilang, 'Mungkin ini pertemuan terakhir atau bisa jadi awal dari semuanya'. Menitipkan ke anak-anak," kenang Karina.
Namun, Karina mengaku tak berpikir apa-apa terkait ucapan suaminya itu. Momen pamitan dianggapnya sebagai perkataan biasa yang tak memiliki makna lebih.
"Cuma ketika dia ngomong itu enggak kepikiran, ini apa maksudnya. Masih sehat kemarin tuh, baru sadar oh mungkin itu sudah firasat," ujar Karina.
"Setelah pulang dari sana tuh (dari warung) segar, fresh, ketawa-ketawa, menitipkan pesan, sudah merasa lega mungkin. Pulang. Udah tuh paginya, kondisi sudah terjatuh," lanjut dia.
Quentin sendiri mengakui bahwa sang ayah memang kerap membahas perihal kematian, meski kondisinya dalam keadaan sehat. Kebiasaan tersebut bahkan sering membuat keluarganya jengkel.
"Papi tuh emang dari dulu suka ngomongin kematian. Mungkin karena dia penasaran kali ya sama apa setelahnya. Keluarga pasti enggak suka dong kalau dengerin Papi ngomong begitu. Cuman ya mau gimana lagi, emang takdirnya begini," kata Quentin.