Setelah peristiwa ini terjadi, pada pagi harinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa cemas karena khawatir dianggap berdusta oleh kaumnya. Abu Jahl menghampiri beliau dan meminta untuk menceritakan apa yang terjadi.
Ketika Rasulullah menceritakan pengalamannya tentang Isrâ’ dan Mi’râj, banyak orang Quraisy yang terheran-heran.
Beberapa orang Quraisy yang pernah melihat Masjidil Aqsa meminta Rasulullah untuk menggambarkan masjid tersebut, dan Allah mengangkat gambaran masjid itu sehingga Rasulullah dapat menjelaskannya secara akurat.
Meskipun ada yang mengingkari perjalanan tersebut karena dianggap mustahil dalam waktu semalam, Abu Bakr Radhiyallahu anhu langsung mempercayainya tanpa ragu.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah Isrâ’ dan Mi’râj terjadi dalam mimpi atau secara fisik. Sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut hanya terjadi dalam mimpi, sementara mayoritas ulama salaf dan muta’akhhirîn meyakini bahwa Isrâ’ dan Mi’râj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Hajar menyatakan bahwa Isrâ’ dan Mi’râj terjadi dalam satu malam dengan jasad dan fisik Rasulullah dalam keadaan sadar setelah beliau diangkat menjadi nabi.
Pendapat ini didukung oleh banyak hadits sahih.
Kisah Isra Miraj Nabi Muhammad adalah momen yang sangat istimewa dalam sejarah Islam, menandai perjalanan spiritual yang penuh makna dan keajaiban. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas, tetapi juga mempertegas kedudukan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.