“Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul-Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk ke Baitul-Maqdis dan shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissallam berkata: ‘Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah,’ setelah itu, ia membawaku naik ke langit” [HR Imam Ahmad dalam al-Fathur-Rabbâni, 20/251-252 dan sanadnya shahîh. Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5576. Imam Muslim, 1/145 no. 162. Lihat juga Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5610].
3. Miraj
Setelah Isrâ’, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa naik ke langit melalui beberapa lapisan langit. Di setiap langit, Jibril meminta agar pintu langit dibuka dan memperkenalkan Nabi Muhammad.
Di langit pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam Alaihissallam; di langit kedua dengan Nabi Isa Alaihissallam dan Yahya Alaihissallam; di langit ketiga dengan Nabi Yusuf Alaihissallam; di langit keempat dengan Nabi Idris Alaihissallam; di langit kelima dengan Nabi Harun Alaihissallam; di langit keenam dengan Nabi Musa Alaihissallam; dan di langit ketujuh dengan Nabi Ibrahim Alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mur.
Di Sidratul Muntaha, Allah Azza wa Jalla mewajibkan shalat lima puluh kali sehari semalam kepada umat Islam.
Namun, saat kembali dari mi’râj, Nabi
Musa Alaihissallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar Rasulullah meminta keringanan kepada Allah. Setelah beberapa kali permohonan, kewajiban shalat tersebut akhirnya diringankan menjadi lima kali sehari semalam.