Dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim (Beirut: Darul Fikri, Juz VIII, hlm. 20), Imam Nawawi menjelaskan:
وقال الإمام مالك، والشافعي، وأبو حنيفة، والجمهور: لا كراهة في صوم يوم السبت وحده، وأن الحديث شاذ أو منسوخ، أو أن النهي فيه إنما هو لمن خصه بالصوم، كما خص اليهود يوم السبت
Artinya: "Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak makruh berpuasa hari Sabtu saja. Mereka menilai hadits larangan itu adalah syadz (ganjil), atau telah di-nasakh (dihapus), atau hanya berlaku bagi mereka yang mengkhususkan puasa pada hari Sabtu sebagaimana orang Yahudi."
وقالوا: إذا صامه مع يوم قبله أو بعده، أو وافق عادة له، أو كان في أيام البيض، أو صوم نذر، أو قضاء، أو كفارة، فلا كراهة
Artinya: "Jika seseorang berpuasa hari Sabtu bersama hari sebelumnya atau sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaan rutin seperti puasa Ayyamul Bidh, nadzar, qadha, atau kaffarat, maka tidak ada larangan."
Dengan menjalankan puasa Kamis, Jumat, dan Sabtu di bulan Muharram, kita tidak hanya mengejar pahala berlipat, tetapi juga memulai tahun baru Hijriyah dengan semangat ibadah dan ketekunan. Amalan ini menjadi salah satu bentuk penyucian jiwa dan kedekatan kepada Allah SWT.