Dalam riwayat lain Aisyah pernah berkata:
كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانَ، ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Tak terbatas pada bulan Syaban saja, puasa ayyamul bidh sejatinya menjadi salah satu amalan yang pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW sebelum meninggal dunia. Hal itu sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut ini:
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
Artinya: "Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan tiga hal yang aku tidak meninggalkannya hingga mati: berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat dhuha, mengerjakan salat witir sebelum tidur." (HR Bukhari).