Firman-Nya dalam ayat 5 yang artinya “Yang menguasai di hari Pembalasan” mengandung dua makna yaitu, 1) bahwasanya Allah yang menetukan dan Dia pula satu-satunya yang mengetahui kapan tibanya hari itu. Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui hal tersebut 2)
Allah menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apa pun yang terdapat ketika itu. Maka jangan bersikap atau bertindak menentang-Nya.
Segala sesuatu yang menjadi penghubung antara makhluk dengan Khalik terinci dalam firman-Nya “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
M. Quraish Syhihab dalam Tafsir al-Misbah bahwasannya kata “kami” yang digunakan pada ayat ini mengandung beberapa pesan:
Pertama, untuk ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan. Seorang muslim harus merasa bersama orang lain, tidak sendirian. Atau dengan kata lain seorang muslim harus memiliki kesadaran sosial Kedua, ibadah hendaknya dilakukan bersama-sama.
Karena jika kita melakukannya bersama-sama, orang lain yang bersama kita akan menutupi kekurangan kita.
Pada ayat 6 “ihdina as-shirath al-Mustaqim” mencakup segala yang meliputi urusan makhluk dalam mencapai Allah dan menoleh untuk meraih rahmat-Nya serta mengesampingkan selain-Nya. Sungguh hanya kepada-Nya kita berharap agar menunjukkan kita arah tujuan yang benar.