Semangat kompetitif itu menjadi bahan bakar utama Ozi untuk terus berkembang dari pekan ke pekan. Dia berusaha memberikan performa terbaik demi memukau para juri dan meraih dukungan pemirsa di rumah.
Bagi Ozi, terhentinya langkah di babak 14 besar bukanlah tanda kegagalan. Dia percaya setiap orang memiliki jatah dan waktu masing-masing dalam sebuah perjalanan.
“Begitu saatnya aku diumumkan untuk lulus, aku benar-benar oke. Berarti emang dari 'Atas' rezekinya udah sampai di sini aja. Aku yakin sudah disiapkan lagi rezeki di tempat lain,” ucap Ozi.
Menariknya, Ozi lebih memilih menyebut momen tersebut sebagai kelulusan, bukan eliminasi. Dia menganggap ajang Indonesian Idol sebagai sekolah musik yang memberinya banyak bekal berharga.
“Aku bilangnya bukan tereliminasi, tapi lulus. Karena aku menganggap Indonesian Idol itu sebagai sebuah sekolah, sebuah akademi. Banyak hal yang aku nggak temukan di luar, aku temukan di sini. Mulai dari vocal direct hingga koreo, itu semua di-coaching langsung sama pelatih profesional,” kata Ozi.
Setelah tak lagi menyandang status kontestan, Ozi menyadari tantangan sesungguhnya justru baru dimulai. Dunia industri musik profesional dinilainya jauh lebih keras dibandingkan kompetisi di televisi.