“Awal dari ide konser ini adalah lahir dari sebuah kerinduan untuk mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi Tuhan. Di mana kita semua, setiap daripada kita mempunyai talenta yang telah Tuhan berikan dan percayakan kepada kita,” katanya.
Melalui proses yang cukup panjang, Liliana akhirnya mendapat kesempatan menciptakan 12 lagu baru yang dibawakan secara sinematik dalam konser tersebut. Selain 12 lagu baru, konser itu jug menghadirkan dua lagu lama serta satu lagu persembahan khusus yang disebut sebagai buah kerinduan para mahasiswa STT Kingdom.
Liliana menjelaskan, kata Tehillim berasal dari bahasa Ibrani yang berarti Mazmur Pujian. Melalui konser tersebut, ia berharap masyarakat dapat kembali memahami makna penyembahan yang sesungguhnya.
Tak lupa, ia juga bercerita tentang perjuangannya bersama rekan-rekan mahasiswa lain yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun kembali menempuh pendidikan tinggi. Menurutnya, menempuh pendidikan S2 bukanlah proses yang mudah.
Namun dia bersyukur seluruh proses tersebut menjadi bekal untuk terus berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik. “Saya bersyukur semuanya menjadi suatu yang meng-equip kita untuk menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.