"Jika sekarang hanya Rp25 juta, bagaimana prosesnya, kami tidak tahu. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan hal ini kepada anggota?" kata Ikke.
"Itu menjadi poin besar karena kami tidak dilibatkan dalam proses, sehingga angka distribusi ini muncul sebesar Rp25 juta di pertengahan tahun," ucapnya.
Ikke menilai persoalan transparansi menjadi hal yang sangat penting dalam pengelolaan royalti. Dia berharap LMKN dapat memberikan penjelasan terbuka terkait skema pembagian tersebut.
"Masalah transparansi juga menjadi catatan. Kami belum mendapatkan transparansi tersebut. Kami ingin berprasangka baik, mungkin mereka akan memberi penjelasan, tapi ini sudah masuk tahun 2025 dan belum ada sama sekali, serta kami tidak pernah diajak berdiskusi," kata Ikke.
Lebih lanjut, Ikke mengungkapkan ARDI telah menyampaikan sikap resmi terkait besaran royalti tersebut. Mereka bahkan telah mengirimkan surat penolakan kepada LMKN. "Rp25 juta itu kami melakukan surat penolakan," ujar dia.