Menkes Budi menjelaskan, alasan utama banyak orang mengonsumsi yoghurt adalah untuk mendapatkan manfaat probiotik yang baik bagi kesehatan usus, sekaligus protein yang dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Sayangnya, tidak sedikit produk yoghurt di pasaran yang telah diberi tambahan berbagai perasa dan pemanis, sehingga kandungan gulanya menjadi jauh lebih tinggi.
"Biasanya, kalau orang beli yoghurt yang dicari kan probiotiknya atau juga proteinnya. Tapi, kalau sudah ditambah rasa-rasa seperti ini, yang didapat malah gulanya," ujarnya.
Karena itu, Menkes menyarankan masyarakat lebih cermat saat memilih produk yoghurt. Dia merekomendasikan yoghurt plain atau tanpa rasa serta Greek yoghurt, karena umumnya memiliki kandungan protein lebih tinggi, probiotik yang tetap terjaga, dan kadar gula yang lebih rendah dibanding yoghurt dengan tambahan perasa.
"Kalau mau beli yoghurt, cari yoghurt yang plain atau yoghurt Greek, karena mereka ini proteinnya tinggi, probiotiknya tinggi, namun gulanya rendah," tuturnya.
Selain memilih jenis yoghurt yang tepat, masyarakat juga disarankan membiasakan diri membaca label informasi nilai gizi sebelum membeli. Perhatikan jumlah gula per sajian, kandungan protein, serta daftar komposisi. Semakin sedikit tambahan gula dan bahan pemanis, umumnya semakin baik kualitas yoghurt tersebut untuk dikonsumsi.
Di akhir pesannya, Menkes Budi kembali mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terkecoh dengan cita rasa manis yang sering dikaitkan dengan produk sehat. Menurut dia, konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk kenaikan kadar gula darah.
"Jangan ketipu sama rasa-rasa ini ya, dikira sehat, malah pada saat dicek kesehatan gratis, gulanya malah naik," pungkasnya.