Prof. Endang mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi faktor sosial, di mana laki-laki sering menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Karena itu, keluarga cenderung mendorong upaya transplantasi agar kualitas hidupnya kembali membaik.
“Laki-laki sering jadi pencari nafkah utama, jadi keluarganya mendorong agar kualitas hidupnya kembali baik dan bisa bekerja lagi,” ujarnya.
Dia menegaskan, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi kunci penting dalam penanganan gagal ginjal. Dengan diagnosis lebih awal, pasien memiliki lebih banyak pilihan terapi, termasuk peluang menjalani transplantasi pada waktu yang tepat, bukan saat kondisi kerusakan ginjal sudah terlalu berat.
Deteksi dini melalui tes urin sederhana diharapkan dapat meningkatkan angka keberhasilan penanganan dan menekan risiko komplikasi. Masyarakat pun diimbau tidak menunggu munculnya gejala berat sebelum memeriksakan diri.