“Masalahnya, konten brain rot itu super cepat, penuh kejutan, jadi timbul lonjakan dopamin terus-menerus. Hasilnya, otak memberi sinyal, kalau mau senang, scroll lagi. Terbentuk kecanduan digital,” ujarnya.
Prof Zulys menuturkan, otak manusia sebenarnya dirancang untuk berpikir secara mendalam dan reflektif. Namun, pola konsumsi konten cepat membuat kemampuan fokus perlahan menurun.
Akibatnya, seseorang menjadi sulit bertahan menonton video berdurasi panjang dan daya ingat ikut melemah. Informasi yang diterima juga tidak tersimpan dalam memori jangka panjang.
“Rentang fokus perhatian rusak, tidak tahan nonton video lebih dari 1 menit, dan daya ingat melemah. Informasi tidak masuk ke ingatan panjang. Sulit membuat keputusan, sering jadi lebih reaktif, kurang reflektif,” kata Prof Zulys.
Dia mengingatkan, dampak brain rot tidak bisa dianggap sepele. Selain menurunkan fokus dan konsentrasi, kondisi tersebut juga berpotensi memicu gangguan emosi hingga meningkatkan risiko depresi.