Dokter Kanadi menambahkan, umumnya pasien endometriosis mengeluhkan nyeri berdenyut dan menjalar hingga ke tungkai, serta nyeri pada rektum dan adanya sensasi perut yang ditarik ke bawah. Mereka yang memiliki faktor risiko seperti belum pernah melahirkan, menstruasi usia dini, menopause di usia lanjut, siklus menstruasi yang pendek yaitu maksimal 27 hari, memiliki tingkat estrogen yang tinggi, dan punya kelainan saluran produksi, perlu melakukan pemeriksaan rutin terkait Endometriosis.
"Hal ini karena mereka memiliki risiko tinggi untuk mengalami endometriosis di kemudian hari. Karena jika tidak diobati dengan tepat, perempuan akan berisiko mengalami komplikasi seperti infertilitas dan kanker ovarium,” kata dr Kanadi.
Sementara itu, Dewi Muliatin Santoso selaku Head of Medical Dept. Pharmaceuticals Bayer Indonesia mengatakan, edukasi yang tepat dan terus menerus merupakan kunci untuk mendorong kepatuhan terapi hormonal jangka panjang. "Terapi hormonal Dienogest sangat efektif bagi penderita endometriosis. Ini merupakan bentuk dari komitmen kami untuk menghadirkan obat inovatif untuk endometriosis," kata Dewi.
Menurutnya, berdasarkan konsensus HIFERI 2023, Dienogest merupakan obat inovatif yang efektif dan aman yang direkomendasikan para dokter untuk terapi endometriosis. Terapi hormonal jangka panjang terbukti efektif dalam mengelola
gejala endometriosis, mencegah progresivitas penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup. Data menunjukkan adanya pengurangan nyeri sebesar 40 persen dalam 4 minggu pemakaian dienogest serta menunjukkan peningkatan nyatabdalam ukuran kualitas hidup spesifik (SF-36) setelah 24 minggu pengobatan.
"Penelitian pada 29 pasien yang menjalani terapi Dienogest, lebih dari 80 persen pasien yang sel endometriosisinya hilang atau minimal pada minggu ke-24 pengobatannya," tuturnya.