Penting juga, kata dr Dicky, untuk terus memantau penilaian kualitas udara di tempat Anda berada. Jika nilainya menunjukkan keparahan atau biasanya ditandai warna merah, maka penggunaan masker bisa menjadi upaya pencegahan penyakit yang cukup efektif.
Di kesempatan itu, dr Dicky juga menerangkan risiko terburuk dari paparan polusi udara. Menurutnya, polusi udara dapat menyebabkan masalah serius, bahkan bisa menyebabkan kematian dini, terutama bagi anak-anak, lansia, orang dengan asma, atau penderita penyakit jantung.
"Bahkan, dapat meningkatkan risiko kematian dini akibat stroke dan kanker paru-paru," papar dr Dicky.
Sebagai informasi, laman IQAir mencatat nilai polusi udara di Jakarta di angka 177. Itu menandakan Jakarta sebagai kota nomor dua dengan kualitas udara paling buruk di dunia.
Di urutan pertama ada Kinshasa (183). Bahkan, Medan, Sumatera Utara, pun masuk dalam 5 kota besar dengan kualitas udara terburuk di dunia. Medan ada di urutan ke-5 dengan skor 152. Sementara itu, di urutan ketiga ada Delhi (163) dan di urutan keempat Lahore (160).
Namun, jika mengacu pada data Indonesia, urutan pertama bukanlah Jakarta melainkan Tangerang Selatan dengan skor 195. Jakarta ada di urutan ke-2, disusul Tangerang (178), Surabaya (143), dan Semarang (140).