3. Transparansi dan Kepercayaan terhadap Bahan Baku
Konsumen mulai meninggalkan aturan makan yang kaku dan beralih pada kebutuhan akan kejelasan terkait kandungan produk yang mereka konsumsi. Alih-alih mengejar klaim label yang rumit, masyarakat kini mencari daftar bahan yang jelas, formulasi yang memiliki tujuan, serta merek yang dapat dipercaya.
Minat terhadap makanan yang diproses secara minimal, menggunakan bahan yang mudah dikenali, dan mendukung pendekatan berbasis pangan utuh serta nabati juga semakin meningkat, terutama di kalangan konsumen muda. Fokusnya bukan lagi pada kesempurnaan, melainkan pada pemahaman proses pembuatan produk dan keyakinan terhadap kualitasnya.
4. Meningkatnya Nutrisi yang Dipersonalisasi
Nutrisi menjadi semakin disesuaikan dengan kebutuhan individu. Masyarakat mulai menyesuaikan pola makan dan konsumsi suplemen untuk mendukung keseimbangan hormon, kekuatan tulang, kesehatan metabolik, serta pemulihan, dengan menyesuaikan rutinitas seiring perubahan kondisi tubuh dan tahap kehidupan.
Perubahan ini mencerminkan pendekatan nutrisi yang bekerja selaras dengan tubuh, bukan melawannya. Personalisasi kini bukan lagi konsep khusus, melainkan solusi praktis untuk membantu masyarakat merasa lebih baik dalam keseharian.
5. Personalisasi Berbasis Teknologi
Pada 2026, personalisasi berbasis teknologi akan terus membentuk pola wellness sehari-hari, membantu konsumen membuat keputusan yang lebih tepat serta membangun rutinitas sesuai kebutuhan, preferensi, dan tujuan performa masing-masing.
Penilaian berbasis kecerdasan buatan, tes biomarker mandiri di rumah, serta perangkat suplemen yang dipersonalisasi memperluas akses terhadap informasi yang sebelumnya hanya tersedia di lingkungan klinis. Dengan demikian, masyarakat dapat menyesuaikan asupan protein, hidrasi, mikronutrien, dan strategi pemulihan berdasarkan umpan balik waktu nyata, bukan sekadar perkiraan.