Kasus Diabetes Tinggi, Peneliti: Terapi Insulin Dialihkan ke Faskes Pertama Bisa Hemat Biaya JKN

Vien Dimyati
Kasus Diabetes di Indonesia tinggi (Foto: Ist)

"Jika terapi insulin dialihkan dari Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKTRL) ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), maka beban penanganan diabetes pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat dihemat hingga 14 persen atau setara Rp1,7 triliun per tahun," ujar Lead Researcher Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) UI Prof Budi Hidayat, belum lama ini.

Prof Budi menambahkan temuan studi ini mendukung pengalihan pengobatan insulin ke FKTP, sejalan dengan pedoman yang telah ditetapkan oleh asosiasi PERKENI. "Hasil studi menekankan pentingnya merealisasikan hasil temuan ke dalam langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti, termasuk perubahan kebijakan seperti menyelaraskan Formularium Nasional dengan PNPK, memastikan kompetensi dan kemampuan fasilitas layanan kesehatan primer, dan memulai reformasi remunerasi di layanan kesehatan primer,” kata dia. 

Lebih lanjut Prof Budi mengatakan pemberian insulin bisa memperkuat fasilitas kesehatan tingkat pertama, tidak hanya berdampak pada biaya saja tapi ke hal lainnya. "Karena insulin hanya ada pada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan. Padahal pemberian insulin lebih bagus dan efisiensi dana pada JKN apabila dilakukan pada tingkat pertama," kata dia.

Ketika pasien diabetes mendapat insulin dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, tentu biayanya akan lebih murah dibanding ke rumah sakit rujukan. 

"Belum lagi kalau berbicara akses, di mana fasilitas kesehatan pertama pasti kan dekat dengan tempat tinggal mereka. Jadi, mereka tidak perlu bolak-balik pergi yang jauh ke fasilitas kesehatan lanjutan untuk mendapatkan insulin," ujarnya.

Menurut Prof Budi, dengan adanya akses pemberian insulin dari fasilitas kesehatan tingkat pertama memberikan dampak positif pada pasien diabetes. "Mereka akan lebih disiplin dalam melakukan pengobatan. Jadi, diabetes yang mereka derita dapat lebih mudah terkontrol dan bisa mencegah terjadinya komplikasi, seperti penyakit jantung, ginjal kronik, hipertensi, stroke,” tutur Prof Budi.

Editor : Vien Dimyati
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kasus DBD pada Anak Meningkat saat El Nino, Ini Gejala Kritis yang Harus Diwaspadai

57 tahun lalu

Riset Johns Hopkins Ungkap Rokok Elektrik di Indonesia Masih Ramah Remaja

57 tahun lalu

Benarkah Bakso hingga Siomay Bisa Meningkatkan Hipertensi? Ini Faktanya!

57 tahun lalu

Anak Bisa Kena DBD Berkali-kali, IDAI Sarankan Vaksinasi demi Perlidungan Maksimal!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal