Dalam kesempatan yang sama, dijelaskan bahwa plak kolesterol terbentuk akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lainnya di dinding pembuluh darah. Proses ini berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun, bahkan bisa dimulai sejak usia muda tanpa disadari.
Seiring waktu, plak dapat membuat pembuluh darah menjadi lebih sempit dan kaku. Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah ke organ vital, termasuk jantung dan otak, menjadi terganggu.
Yang lebih berbahaya, sebagian besar penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga penyumbatan sudah cukup berat atau terjadi serangan jantung secara mendadak.
"20 tahun, 30 tahun nggak ada rasanya. 50 tahun jepret, bomnya meledak, serangan jantung," kata dr Nancy.
Dokter Nancy menjelaskan bahwa obat penurun kolesterol bekerja dengan cara menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Dengan kadar LDL yang lebih rendah, pertumbuhan plak dapat diperlambat, sehingga risiko penyumbatan pembuluh darah menjadi lebih kecil.
"Nah kalau sudah ada plak, dia sudah nggak bisa dikembalikan jadi nol persen. Minum obat itu supaya plaknya nggak progres jadi lebih besar," ujarnya.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki penyumbatan ringan akibat plak sebesar 10 hingga 20 persen masih dapat menjaga kondisinya tetap stabil dengan kombinasi pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tanpa pengendalian yang baik, plak tersebut berpotensi berkembang menjadi penyumbatan yang lebih berat dan memicu serangan jantung.