JAKARTA, iNews.id - Perawat onkologi di Indonesia jumlahnya masih sangat sedikit. Padahal, peran perawat onkologi sangat penting dalam perjalanan perawatan pasien kanker, terutama kanker payudara yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia.
Menurut data Globocan 2022, kasus kanker payudara di Indonesia diprediksi mencapai 41,8 per 100.000 penduduk. Angka kasus yang sangat tinggi, dan karena itu peran perawat onkologi sangat penting dalam proses pengobatan pasien.
Disampaikan Edy Gunawan selaku CEO MRCCC Siloam Hospitals, peran perawat onkologi itu penting, karena mengetahui ilmu dasar dalam pengobatan kanker.
"Obat kemoterapi itu sangat sitotoksik, artinya harus di-handle khusus. Kalau perawat umum belum tentu paham pakai alat pelindung dirinya seperti apa, obat kemoterapi ini boleh terbuka di udara berapa lama," kata Edy saat ditemui iNews.id do MRCCC Siloam Hospitals Jakarta, Jumat (13/2/2026).
"Lalu, obat kemoterapi tertentu sebelum disuntik ke pasien, harus di-cross check dulu. Ini apakah warnanya berubah, apakah ada kontaminasi, dan lainnya. Nah, perawat biasa belum tentu memiliki kompetisi itu," tambahnya.
Dengan tugas yang cukup penting itu, perawat onkologi sangat dibutuhkan di Indonesia. Di MRCCC Siloam Hospitals, perawat onkologi yang tersedia baru 4 orang, dan targetnya pada lima hingga 10 tahun ke depan, 70% perawat di rumah sakit ini merupakan perawat onkologi.
Agar mencapai target tersebut, pihak rumah sakit bekerja sama dengan Roche Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan onkologi melalui penguatan kolaborasi di bidang terapi, teknologi, edukasi, serta pengembangan layanan berbasis kebutuhan pasien.