"Hilda akan bisa mengarahkan apakah pasien harus minum air putih dulu, kemudian nanti konsultasi ke dokter. Di situ, pasien bisa pilih langsung chat dengan dokter, di mana chat-nya tetap dengan dokter profesional, tetapi yang menenangkan hatinya pertama kali adalah Hilda," katanya.
Meski mengandalkan AI, Hafiz menegaskan teknologi tersebut tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter. Sebaliknya, AI berfungsi sebagai pendamping yang membantu meningkatkan efisiensi kerja tenaga medis, sehingga dokter dapat lebih fokus dalam memberikan diagnosis dan penanganan kepada pasien.
Selain digunakan oleh pasien, Hilda juga telah terintegrasi ke berbagai layanan internal Halodoc, termasuk mendukung operasional dokter dan apotek. Dari sisi keamanan, Halodoc memastikan seluruh pengelolaan data pengguna telah memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
Hafiz mengungkapkan, sejak diperkenalkan pada 2025, Hilda telah memberikan peningkatan signifikan terhadap efektivitas layanan dibandingkan metode konvensional. Untuk menjaga kualitas layanan, Halodoc juga melakukan evaluasi rutin melalui Board of Medical Excellence agar setiap respons yang dihasilkan AI tetap relevan, akurat, dan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, Halodoc menilai kolaborasi antara kecerdasan buatan dan tenaga medis menjadi salah satu langkah penting dalam memperluas akses layanan kesehatan digital sekaligus meningkatkan pengalaman pasien di Indonesia.