Selain berperan pada sistem saraf, garam juga dibutuhkan untuk menjaga kerja jantung. Prof Zulys menjelaskan, detak jantung yang normal dipengaruhi oleh keseimbangan ion natrium dan kalium yang bekerja di dalam sel-sel jantung.
“Kemudian juga jantung kita ini bisa berdetak dengan teratur karena apa? Karena ada sistem channel garam, ion-ion natrium, kalium di dalam sel-sel di jantung kita,” ucapnya.
Meski demikian, kebutuhan garam harus dipenuhi dalam jumlah yang wajar. Ahli gizi umumnya merekomendasikan konsumsi garam tidak berlebihan karena dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Sebaliknya, kekurangan garam juga bisa berdampak buruk pada fungsi saraf dan jantung.
“Kelebihan garam tidak bagus juga akan menyebabkan hipertensi, tapi kekurangan garam ini juga menyebabkan bahaya yang menyebabkan kerja jantung, kerja saraf kita akan menjadi tidak normal. Oleh karena itu, kita cukupkan makan garam seadanya,” kata Prof Zulys.
Sebagai panduan umum, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh untuk orang dewasa. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh sekaligus membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, masyarakat disarankan mengonsumsi garam secukupnya dan menghindari pola makan yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah garam agar fungsi otak, saraf, dan jantung tetap bekerja optimal.