Ia menjelaskan, biaya operasi jantung anak rata-rata mencapai Rp100 juta, sementara BPJS Kesehatan hanya mampu menanggung sekitar 30 persen. Kondisi serupa juga terjadi pada kasus katup aorta, di mana biaya satu katup bisa mencapai Rp500 juta dan belum sepenuhnya ditanggung BPJS.
“Biaya operasi jantung anak rata-rata Rp100 juta, sementara BPJS mungkin hanya mengcover 30 persen. Begitu juga katup aorta yang harganya Rp500 juta dan tidak ter-cover BPJS. Bantuan King Salman senilai 62 miliar rupiah ini sangat berarti bagi masyarakat Indonesia,” tutur dia.
Dante menilai kehadiran KS Relief membantu menutup celah pembiayaan tersebut, sekaligus mendukung inovasi subsidi internal yang telah dilakukan oleh pihak rumah sakit.
Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan RSJPD Harapan Kita, dr Muhadi, menjelaskan bahwa kunjungan keempat KS Relief kali ini bersifat sangat spesifik karena menangani kasus-kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi.
“Ini kunjungan keempat KSR ke Harapan Kita. Untuk kali ini sangat spesifik; ada 31 kasus bedah jantung pediatrik kompleks yang dikerjakan. Kami juga melakukan penggantian katup aorta tanpa operasi (TAVI) pada 4 pasien lansia yang tidak bisa dioperasi biasa. Alatnya sangat mahal, hampir Rp500 juta, dan belum di-cover BPJS sehingga ini disubsidi melalui misi ini,” terang Muhadi.