Dalam praktik kesehatan, surrogacy yang paling banyak diterapkan adalah surrogate gestasional. Pada metode ini, surrogate tidak memiliki hubungan genetik dengan bayi karena embrio dibentuk di laboratorium melalui IVF, lalu ditanamkan ke rahim surrogate.
Secara medis, tahapan yang dijalani meliputi:
- Skrining kesehatan menyeluruh, termasuk pemeriksaan organ reproduksi, penyakit menular, hormon, dan kesiapan psikologis.
- Pembentukan embrio melalui IVF dengan standar laboratorium yang ketat.
- Transfer embrio yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih.
- Pemantauan kehamilan berkelanjutan, sama seperti kehamilan berisiko rendah hingga tinggi, tergantung kondisi surrogate.
Organisasi kesehatan global menegaskan bahwa semua prosedur ART harus berbasis bukti ilmiah, dilakukan oleh fasilitas yang kompeten, dan memprioritaskan keselamatan ibu pengganti serta janin.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, surrogacy dipandang sebagai alternatif medis, bukan sekadar pilihan personal. Prosedur ini umumnya dipilih ketika kehamilan berisiko menimbulkan komplikasi serius, baik bagi ibu maupun bayi.