Teknologi ini juga dapat dioperasikan oleh tenaga ahli yang sudah terlatih, sehingga mudah diimplementasikan di berbagai fasilitas kesehatan.
"Produksi lokal INDIGEN selaras dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan dan kemandirian kesehatan nasional. Kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses lebih luas terhadap teknologi diagnostik yang inovatif dan terjangkau," tambah Retno.
INDIGEN dapat mendeteksi empat target gen sekaligus, yaitu Mycobacterium tuberculosis (MTB), Nontuberculous Mycobacteria (NTM), serta resistensi terhadap dua obat utama anti-TB: Rifampisin dan Isoniazid.
Dengan kemampuan deteksi tersebut, INDIGEN diharapkan dapat membantu dokter memberikan pengobatan TBC yang lebih tepat dan efektif, sehingga dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Hasil uji ilmiah menunjukkan tingkat sensitivitas INDIGEN mencapai 94,12% dan spesifisitas sebesar 98,36%, dengan pengujian terhadap lebih dari 700 sampel klinis populasi Indonesia. Data ilmiah terkait INDIGEN telah dipublikasikan secara internasional dan memperoleh hasil evaluasi sangat baik dari Kementerian Kesehatan RI.
Dengan semakin meluasnya penggunaan INDIGEN di berbagai wilayah, diharapkan teknologi ini dapat berkontribusi nyata dalam mempercepat tercapainya target eliminasi TBC di Indonesia dan mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.