Lebih lanjut, dr Lucky menerangkan bahwa bayi yang mulai menolak disuapi setelah sebelumnya terbiasa disuapi merupakan bagian dari perkembangan kemampuan motorik. Kondisi tersebut termasuk penerapan feeding rules, khususnya konsep responsive feeding, bukan BLW.
Menurutnya, pada usia enam bulan bayi memang umumnya masih membutuhkan bantuan saat makan. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan menggenggam makanan dan memasukkannya ke mulut akan berkembang sehingga bayi ingin melakukannya sendiri.
"Kenapa didorong untuk makan sendiri? Karena kemampuan makan itu akan meningkat. Ketika enam bulan baru mulai makan, mungkin anaknya belum siap untuk makan sendiri. Megang masih susah, masukin ke dalam mulut masih susah, maka dibantu dengan suap. Tapi kan kemampuannya meningkat, makin lama dia makin jago. Ketika anaknya sudah bisa megang makanan, masukin ke dalam mulut, maka pasti itu kemampuannya itu pengen digunain sama anaknya. Anaknya pengen megang sendiri, orang tuanya malah masih maksa buat nyuapin, anaknya akan nolak," jelas dr Lucky.
Karena itu, dia mengimbau orang tua tidak panik ketika anak mulai ingin makan sendiri. Orang tua justru disarankan memberi kesempatan kepada anak untuk melatih kemampuan makan mandiri, meski prosesnya membuat meja makan menjadi lebih berantakan.
“Salah satunya feeding rules itu adalah dorong anak untuk makan sendiri. Tapi itu bukan BLW, itu namanya feeding rules, responsive feeding. BLW dari awal nggak pernah disuapin. Jadi lihat nih, kalau anaknya udah bisa nyobain megang-megang makanan, maka kasih kesempatan. Berantakan ya nggak apa-apa, ya namanya juga belajar. Ingat, kemampuan anak harus diasah, harus diberikan kesempatan," katanya.