JAKARTA, iNews.id - BPJS Kesehatan terus menanggung lonjakan biaya pengobatan penyakit kronis yang kian mengkhawatirkan. Ironisnya, sebagian besar kasus bisa dicegah sejak dini.
Data terbaru menunjukkan 87 persen beban BPJS Kesehatan terserap untuk layanan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, artinya untuk pasien yang sudah dalam kondisi berat dan membutuhkan perawatan mahal.
Dalam periode 2019 hingga 2025, beban BPJS Kesehatan melonjak Rp81,8 triliun atau naik 75,5 persen. Kenaikan terbesar terjadi pada layanan rujukan lanjutan yang mencapai Rp73,8 triliun.
Penyakit kronis menjadi penyumbang utama. Pembiayaan penyakit jantung naik dari Rp10,28 triliun menjadi Rp17,35 triliun. Gagal ginjal melonjak paling drastis, hingga 476,2 persen—dari Rp2,32 triliun menjadi Rp13,38 triliun. Kanker meningkat 170,2 persen, stroke 182,9 persen, talasemia 67,6 persen, dan hemofilia 124,2 persen.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik anggaran. Di baliknya ada jutaan peserta BPJS yang terlambat menyadari kondisi kesehatannya.
Tekanan darah tinggi, gula darah tidak terkontrol, dan kolesterol tinggi menjadi tiga pemicu utama penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Masalahnya, kondisi tersebut sering tidak menimbulkan gejala berarti.
Banyak orang merasa sehat, hingga suatu hari terserang stroke mendadak atau harus menjalani cuci darah seumur hidup.