"Saya yakin penonton film indonesia ketika datang ke bioskop bisa melihat, 'Oh ini semua umur, ini 17 plus, dan seterusnya'. Mudah-mudahan ini juga menjadi awareness bahwa kita juga mampu membangun kesadaran itu. Bagaimana memilih tontonan, film yang tepat, orang tua yang membawa anak, ini merupakan bagian dari budaya sensor mandiri," jelas Reza.
Melihat kemajuan itu, Ketua Lembaga Sensor Mandiri (LSF) Naswardi ikut mengupayakan dengan sosialisasi budaya sensor mandiri pada para penonton lewat promosi dari setiap film-film nasional terbaru.
Ia juga menargetkan capaian 75 persen masyarakat Indonesia agar semakin menerapkan budaya sensor mandiri ini dengan memilah konten dan kualifikasi usia tontonan.
"Ini bagian dari upaya LSF untuk terus memajukan perfilman indonesia yang tidak hanya dari penyensoran atau surat tanda lulus sensor, tetapi bagaimana film-film nasional kita paling dekat dinikmati oleh masyarakat Indonesia," jelas Naswardi.