"Kalau ada biaya seperti itu, saya sangat bersyukur. Tetapi, kami ini enggak ada biaya satu peser pun (dari pemerintah) tidak ada. Jadi kami ini sifatnya gotong royong, mandiri, urunan. Bukan berarti urunan duit saja, urunan tenaga, pikiran, dan waktu," jelasnya.
Endiarto kemudian menyebut kalau ide pembuatan film ini memang berasal dari rasa nasionalisme sejumlah pihak untuk memeriahkan HUT ke-80 RI.
"Enggak semuanya orang berpikiran ke angka, tapi ada juga orang-orang yang memiliki idealis, 'oke, kita sama-sama ini' Nah, ternyata ada beberapa itu termasuk animatornya, termasuk asisten, termasuk produsennya, kami kumpul. Jadi tidak ada, kamu dapat sekian, enggak ada," lanjutnya.
Di sisi lain, Endiarto memang mengakui kalau biaya produksi film animasi sendiri jauh lebih tinggi ketimbang pembuatan film-film biasa.
"Kalau mau dihitung film animasi itu bisa 3-4 kali lipat dari film biasa, baik biaya maupun waktunya. Kalau kami dihitung begitu kami total-totalnya bisa lebih (dari yang dibicarakan) cuma kami enggak ada, dapatnya dari mana," kata dia lagi.
Sementara untuk komentar miring netizen terkait kualitas film, Endiarto legowo menanggapinya. Dia terang-terangan mengaku tak mempersoalkan jumlah penontonnya setelah film ini tayang serta bakal menerima apa pun hasil yang diperoleh.
"Kalau soal respons penonton nanti, kalau Alhamdulillah besar, ya kami menikmati, kalau kecil ya kami menikmati juga, kalau kosong, enggak ada yang nonton satu pun, ya kami sudah niat dari awal, kami hanya memberikan sumbangsih, kontribusi untuk mewarnai (HUT RI), itu saja niat kami," terangnya.