Pollard juga menyoroti situasi di Suriah. Ia memperingatkan Israel agar tidak membiarkan pemerintahan transisi yang didukung Turki memperluas pengaruhnya ke wilayah selatan Suriah yang saat ini berada di bawah kendali militer Israel.
Sosok Pollard sendiri bukan figur biasa dalam politik Israel. Ia pernah dipenjara selama 30 tahun di Amerika Serikat setelah terbukti menyerahkan dokumen rahasia AS kepada Israel pada 1984. Setelah dibebaskan pada 2015, ia pindah ke Israel dan memperoleh kewarganegaraan negara tersebut.
Sejak menetap di Israel, Pollard dikenal dekat dengan sejumlah tokoh politik sayap kanan, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir. Namun, pandangannya dalam podcast tersebut tidak mewakili kebijakan resmi pemerintah Israel.
Hubungan Israel dan Turki sejatinya telah terjalin sejak lama. Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui Israel pada 1949. Namun hubungan kedua negara memburuk setelah insiden Mavi Marmara pada 2010 dan semakin tegang sejak pecahnya perang Gaza pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Sementara itu, Mesir dan Israel terikat perjanjian damai sejak 1979 yang mengakhiri serangkaian konflik militer antara kedua negara. Meski hubungan diplomatik tetap terjaga, ketegangan regional dan situasi Gaza kerap memengaruhi dinamika hubungan keduanya.
Di akhir pernyataannya, Pollard mengaku berharap Israel tidak terlibat perang dengan Mesir maupun Turki. Namun, ia menegaskan bahwa kemungkinan tersebut tidak bisa diabaikan di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang terus bergejolak.