Demikian pula dari sisi indikator currency risk atau risiko nilai tukar, Suminto menilai, proporsi utang pemerintah dalam valuta asing sudah menurun drastis, hal ini pun mengurangi risiko pemerintah.
Dia memaparkan sebelum pandemi, di 2019 dari seluruh utang pemerintah yang merupakan valuta asing itu 37,9 persen, di 2018 justru sempat mencapai 41 persen. Sementara saat ini utang pemerintah dalam bentuk valuta asing itu hanya 27,5 persen.
"Sehingga dari sisi currency risk jelas jauh lebih baik," ucap dia.
Suminto menambahkan, dari sisi refinancing risk, average time to maturity atau rata-rata tenor dari utang pemerintah juga cukup panjang yakni sekitar 8,1 tahun. Demikian dari sisi market risk yang lain risiko suku bunga mayoritas utang pemerintah sekitar 82 persen juga fix rate sehingga tidak terlalu sensitif terhadap gerakan suku bunga yang ada di market.
"Demikian kalau direfleksikan pada indikator risiko utang yang lain misalnya dari sustainabilitas utang. Selain dari debt to GDP, yang di literatur dan praktik yang biasanya digunakan adalah keseimbanganprimer," katanya.
"Kita bersyukur sekali APBN 2023 keseimbangan primer positif lebih dari 90 triliun dan itu pertama sejak 2012 ini juga mengindikasikan sustainabilitas yang dapat dijaga. Kemudian dari sisi debt dynamics di mana kalau kita perbandingkan antara suku bunga riil dan pertumbuhan PDB real itu juga dalam kondisi yang baik di mana depth dynamic dapat dijaga," ujar dia.