JAKARTA, iNews.id - Kebutuhan akan jasa arsitek dan desain interior meningkat seiring dengan bertumbuhnya permintaan residensial high-end, perkantoran, perhotelan, hingga ritel atau ruang usaha. Namun kurangnya jumlah arsitek di Indonesia menjadi tantangan tersendiri.
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memasukkan arsitektur sebagai salah satu subsektor yang layak untuk dikelola secara lebih serius. Sebab, diprediksikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) industri kreatif tahun depan bisa mencapai 6,25 persen. Pertumbuhan sebesar ini dikatakan mampu menyerap tenaga kerja hingga 16,70 juta orang.
“Berdasarkan data Ikatan Arsitek Indonesia, dari 250 juta penduduk, hanya 15 ribu orang yang berprofesi sebagai arsitek. Selain itu, tantangan lainnya adalah pengembang besar lebih banyak menggunakan arsitek asing daripada arsitek lokal,” kata Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santoso Sungkari, dalam keterangan resminya kepada iNews.id, Minggu (10/12/2017).
Salah satu pemain industri kreatif lokal di subsektor ini adalah Velospace & Co yang memiliki portofolio mulai dari hunian rumah, apartemen, ritel, perkantoran, hingga pergudangan. Menurut Pendiri Velospace, Verik Angerik keterbatasan lahan tidak membuat konsumen mengabaikan nilai-nilai estetika dalam unsur arsitekturnya.
“Misalnya pemilihan warna dinding, sangat berpengaruh terhadap estetika ruangan dengan luasan terbatas karena dapat memengaruhi psikologis penghuninya,” ujarnya.