“Sekarang jadi lebih gampang kalau pakai QRIS, kan tinggal scan saya, nggak ribet. Terus juga enggak perlu menyiapkan uang kembalian,” ucapnya.
Perubahan serupa terlihat di gerobak batagor milik Johan yang mangkal di bawah Stasiun Gondangdia. Antrean pembeli, terutama karyawan perkantoran saat jam makan siang, bisa dilayani lebih cepat berkat QRIS BRI.
“Jadi cepat dan praktis. Apalagi pembeli di sini kebanyakan karyawan. Jadi jarang pakai cash,” kata Johan.
QRIS BRI juga diadopsi Rusmiati, pedagang mie ayam yang sudah 10 tahun berjualan di sekitar stasiun. Dengan harga Rp15.000 per porsi, dagangannya laris hingga 50 mangkuk per hari.
“Tak pernah terpikir oleh saya awalnya ada teknologi seperti ini (QRIS). Sekarang semua mudah,” ujar Rusmiati.