JAKARTA, iNews.id - Buku kas adalah alat manajemen keuangan paling tua yang masih digunakan sampai sekarang, bahkan tetap diperlukan di masa datang. Buku ini digunakan di perusahaan kecil, di mana sang pemilik masih secara langsung sibuk mengontrol keluar masuknya kas. Namun juga digunakan di perusahaan menengah, besar sampai multinasional dengan omzet milyaran dollar.
Bentuknya sederhana, setidaknya terdiri dari tiga atau empat kolom; yaitu keterangan, debit, kredit, dan saldo. Kolom keterangan untuk mencatat penjelasan suatu transaksi. Jumlah penerimaan uang dicatat pada kolom debit atau kas masuk. Sedangkan, jumlah pengeluaran uang dicatat pada kolom kredit atau kas keluar dan sisa kas dicatat pada kolom saldo kas.
Beberapa buku kas tidak menyertakan kolom saldo, melainkan mencantumkan pada bagian bawah laporan kas. Angka saldo kas ini harus cocok dengan jumlah uang secara fisik. Jika tidak, maka pasti terjadi kesalahan pada pencatatan atau transaksi itu sendiri.
Meski bentuknya sederhana, buku kas memiliki fungsi vital dalam pengelolaan keuangan. Namun sayang, banyak UKM terutama pengusaha pemula, mengabaikan penggunaan buku kas dalam memanajemen keuangan usaha.
Mereka menganggap proses pencatatan buku kas merepotkan, terlalu birokrasi, hanya jadi beban administrasi yang tidak perlu. Mereka berpikir manfaat buku kas tidak terlalu penting karena merasa mampu mengontrol semua transaksi keuangan usaha tanpa perlu bantuan kas.