Tak hanya bantuan modal, kelompok juga memperoleh gerobak yang dimanfaatkan untuk membantu memasarkan hasil produksi kepada masyarakat.
"Uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang. Kita belanjakan buat bahan baku. Jadi satu orang Rp4 juta lebih, buat beli kompor, wajan, bahan-bahan untuk bikin dodol," katanya.
Selain belajar menyusun pembukuan sederhana, Mahdiah dan anggota kelompok mulai memahami pentingnya menjaga keberlanjutan usaha agar produk olahan rumput laut dapat terus dipasarkan.
Meski program pendampingan telah selesai dan kelompok usaha kini tidak lagi aktif, Mahdiah tetap melanjutkan produksi dodol rumput laut secara mandiri.
Pengalaman mengikuti pelatihan tersebut menjadi bekal penting baginya dalam menjalankan usaha hingga sekarang. Selain dodol, dia juga pernah mencoba mengembangkan produk turunan lain berupa kerupuk rumput laut.