"Terakhir kita panen pakcoy itu 28 kilogram kita jual ke SPPG. Lumayan itu kemarin," ujar Sukarni.
Meski demikian, keuntungan finansial bukanlah tujuan utama. Menurut Sukarni, hasil penjualan kembali diputar untuk membeli bibit, pupuk organik, dan memenuhi kebutuhan operasional kebun.
"Kalau ditanya berapa sih keuntungannya? Kita belum bisa teriak kita dapat keuntungan. Paling kita kelola dapat Rp100.000 sampai Rp200.000. Kemudian kita belikan lagi untuk kompos, beli bibit lagi," katanya.
Manfaat terbesar yang dirasakan Sukarni dari keberadaan Taman Urban Farming Dahlia justru tidak diukur dari jumlah panen. Kebun tersebut telah menjadi ruang berkumpul warga, tempat belajar anak-anak, sekaligus media mempererat hubungan antarwarga.
Dia mengatakan anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) rutin datang untuk belajar menyemai benih, menanam, hingga memanen sayuran. Saat panen ikan lele, warga juga bergotong royong membersihkan dan mengolah hasilnya sebelum dijual.