Hingga akhir Maret 2026, melalui program Desa BRILian, BRI telah membina lebih dari 5.245 desa di seluruh Indonesia sebagai upaya memperkuat kapasitas ekonomi berbasis desa. Selain itu, melalui program KlasterkuHidupku, BRI telah mengembangkan lebih dari 43 ribu klaster usaha yang menjadi bagian dari strategi penguatan sektor produktif berbasis komunitas.
Di sisi digitalisasi UMKM, BRI menghadirkan platform LinkUMKM sebagai ekosistem terintegrasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, mitra bisnis, serta akses terhadap layanan keuangan. Hingga saat ini, jumlah pengguna LinkUMKM telah mencapai lebih dari 15,5 juta UMKM.
Untuk semakin memperkuat kapasitas usaha, BRI juga membina 54 Rumah BUMN, serta telah menyelenggarakan lebih dari 18 ribu pelatihan guna meningkatkan kapabilitas, daya saing, serta mendorong proses naik kelas bagi pelaku UMKM di Indonesia.
Model bisnis BRI yang berfokus pada segmen UMKM memberikan keunggulan tersendiri dari sisi manajemen risiko. Portofolio pembiayaan BRI tersebar luas di jutaan nasabah mikro dengan plafon yang relatif kecil, sehingga menciptakan diversifikasi risiko yang sangat granular.
Dengan struktur tersebut, potensi risiko kredit menjadi lebih terdistribusi dan tidak terkonsentrasi pada debitur tertentu, sehingga ketahanan portofolio relatif lebih kuat dalam menghadapi gejolak ekonomi.
Hasilnya, hingga akhir Triwulan I-2026 BRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen year on year. Sementara itu, total aset BRI tercatat tumbuh 7,2 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp2.250 triliun.
Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 2,8 persen, sementara Return on Equity (ROE) naik dari 17,1 persen pada Triwulan I-2025 menjadi 18,4 persen pada Triwulan I 2026.