Berdasarkan hasil kunjungan langsung ke berbagai lokasi, dia menemukan sebagian besar pembeli rumah subsidi adalah individu lajang atau pasangan muda. Oleh karena itu, rumah dengan lahan terbatas dianggap masih relevan untuk segmen ini.
Selain itu, Maruarar menyoroti kurangnya variasi desain rumah subsidi selama ini. Menurutnya, desain yang monoton membuat konsumen tidak punya banyak pilihan, terutama di daerah urban dengan harga tanah tinggi.
"Desain-desain rumahnya dari dulu gitu-gitu aja. Kita bikin desain yang bagus. Nanti tunggu kejutannya. Saya akan expose desain-desain rumah yang bagus," katanya.
Maruarar mengatakan, keterbatasan lahan menjadi alasan utama rumah subsidi perlu didesain lebih efisien. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah membangun rumah subsidi dalam bentuk bertingkat.
"Sekarang saya mau lihat desain-desainnya. Bisa buat tingkat nggak? Soalnya tanahnya kan mahal. Masa kita kalah dari masalah? Kalau tanahnya mahal, selama ini ruang bisa dibangun tingkat jadi kita jangan mau kalah dari masalah," jelasnya.