Di saat bersamaan, Asep juga harus memindahkan lokasi warungnya dan menanggung biaya pendidikan anak-anaknya. “Waktu Covid-19 memang ngedrop usaha,” ujarnya.
Asep mengaku sempat kesulitan memenuhi kebutuhan usaha dan keluarga. Dua dari tiga anaknya kala itu masih menjalani pendidikan di pondok pesantren, sementara kondisi keuangan warung sedang tidak stabil.
“Saya jujur tidak bisa bayar cicilan waktu itu,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu penopang agar usahanya tetap berjalan. Asep mulai mengenal layanan BRI sejak 2017 setelah membandingkan cicilan pinjaman bank lain.
“Ternyata saya pinjaman di BPR Rp50 juta cicilan sekian. Terus nanya di BRI dengan nominal yang sama ternyata cicilan per bulan lebih rendah,” ujarnya.
Di bank itu, Asep mengaku mengambil pinjaman umum sebesar Rp50 juta dengan tenor tiga tahun. Setelah mengetahui adanya program KUR, Asep kemudian melunasi pinjaman sebelumnya dan beralih menggunakan KUR BRI.