Saat suaminya meninggal pada 1965, Mutiara memutuskan untuk membeli bemo (sejenis angkot) dari Departemen Perindustrian dan menyerahkannya kepada kedua putranya untuk melayani di rute Harmoni-Kota.
Seiring waktu berjalan, keluarga Djokosoetono mendapat hadiah dari PTIK dan AHM berupa dua mobil sedan, Opel dan Mercedes. Dari dua mobil sedan inilah, Mutiara memulai bisnis taksi.
Mutiara meminta kedua putranya untuk menerapkan konsep pemesanan taksi via telepon. Tak malu-malu, di awal percobaan bisnis, kedua putranya pun ikut menyetir mobil mengantarkan penumpang.
Karena putra pertamanya, Chandra, kerapkali melayani panggilan layanan taksi, Mutiara kemudian mendirikan perusahaan taksi dengan nama Chandra Taksi, yang menerapkan konsep tarif per meter.
Bisnis taksi Mutiara sempat menghadapi kendala perizinan karena hanya memiliki 60 unit. Sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mensyaratkan perusahaan taksi harus memiliki minimal 100 unit.