Prinsip itu memang selalu diterapkan Satria di warung tehnya yang beralamat di Jalan Poncol Nomor 3B RT 06 RW 05 Gandaria Selatan, Jakarta Selatan itu. Di situ, dia menyediakan teh berkualitas premium hasil petani Indonesia. Seluruh bahan baku produk di tempat ini dipetik secara manual dengan tangan, sehingga menghasilkan aroma dan rasa teh yang unik.
Di luar kesibukannya mengelola House of Tea, Satria juga aktif mengisi kelas edukasi tentang teh kepada berbagai kalangan. Beberapa di antaranya dia adakan secara online alias daring. Dalam setiap kelas itu pun, dia selalu menekankan soal kualitas produk.
“Ada tiga hal yang sampaikan dalam kelas saya. Yang pertama yaitu bagaimana kita memilih teh yang benar; yang kedua bagaimana kita menyeduhnya, dan; yang ketiga—yang tidak kalah penting—bagaimana kita menikmati agar kita mendapatkan efek positif dari teh itu sendiri,” tuturnya.
Pria kelahiran 1962 itu menuturkan, selain soal kualitas, marketing juga menjadi kunci penting dalam berusaha. Di masa pandemi ini, beberapa pelaku UMKM ada yang sukses meraup cuan dengan menggencarkan promosi lewat toko daring atau market places. Namun, ada pula yang meningkatkan penjualannya dengan cara lain.
Karenanya, kata Satria, di masa-masa sulit seperti pandemi ini, para pelaku UMKM pun harus pandai-pandai melakukan transformasi di dalam memasarkan produknya.
Lewat kelas edukasi yang dia buat, Satria pun berhasil meningkatkan penjualan teh hasil racikannya. Bahkan, beberapa peserta kuliah jarak jauhnya itu ada pula yang sukses membuka kedai teh di daerah masing-masing.
“Jadi, penjualan kami meningkat di saat pandemi ini bukan karena didukung oleh market places yang baik... melainkan lewat product knowledge pada kelas-kelas yang kami adakan,” ungkapnya.