Mengenai hal ini, Mentan berharap, komunikasi dan juga kolaborasi antarpihak terus dilakukan untuk memperkuat peran petani yang tengah berjuang melakukan produksi. Salah satunya pengawasan anggaran pompa dan benih untuk petani.
"Tolong jangan putus komunikasi Pak Dandim, Kepala Balai, Kajari, Kapolres, Dirjen, Kadis, dan lain-lain. Ini kita lakukan supaya gerakan pompa ini berjalan masif di seluruh Indonesia. Pak Kadis minta tolong kerja sama dengan Pak Aster. Kami ada anggaran Rp2 triliun untuk maksimalkan pertanaman," tuturnya.
Menurut Mentan, pompanisasi adalah solusi cepat yang harus dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Sementara itu, dari peta yang ada saat ini, wilayah Jawa Timur memiliki ribuan hektare yang harus terairi dengan baik sehingga pertanamannya bisa ditingkatkan.
"Solusi cepat untuk menangani el nino saat ini adalah melakukan pompanisasi pada sungai-sungai yang tidak kering. Kalau kita bangun cetak sawah butuh waktu panjang, sedangkan saat ini kita butuh pangan. Jawa timur ada ribuan hektare yang bisa kita airi dan dekat dengan bengawan solo. InsyaAllah kami siapkan pompa untuk ini," ujarnya.
Pj Bupati Bojonegoro Adriyanto mendukung penuh upaya Kementerian Pertanian dalam memaksimalkan pompanisasi pada lahan-lahan kering di Jawa Timur. Apalagi, kata dia, Kabupaten Bojonegoro selama ini adalah penghasil beras terbesar ketiga untuk wilayah Jatim.
"Bojonegoro ini daerah terbesar ketiga produksi padi di Jatim. Namun kami punya tantangan besar karena kalau musim hujan risikonya banjir dan kalau musim kering seperti ini risikonya sangat panjang hingga delapan bulan. Tapi, kami berupaya menjaga produksi maksimal di mana angka pada 2023 mencapai 705 ribu ton. Jadi kami mendukung penuh pompanisasi yang dilakukan," tuturnya.