"Sesuatu harus dilakukan untuk membatasi impor barang-barang non-esensial, tanpa mempengaruhi pasokan barang-barang penting," ujar Pokharel dikutip, Rabu (13/4/2022).
Dia menambahkan, importir diizinkan membawa 50 'barang mewah' jika mereka membayarnya secara penuh. "Ini tidak melarang impor tetapi mengecilkan hati mereka," ucap Pokharel.
Utang pemerintah di Nepal telah meningkat menjadi lebih dari 43 persen dari produk domestik bruto. Hal ini disebabkan para pejabat meningkatkan pengeluaran untuk membantu meredam dampak ekonomi dari pandemi, kata kementerian keuangan Nepal. Kementerian juga mengatakan indikator kesehatan ekonomi negara itu normal.
"Namun karena adanya tekanan di sektor eksternal, beberapa langkah telah diambil untuk mengelola impor dan meningkatkan cadangan devisa," ucap kementerian dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Ekonom Pasar Berkembang di firma riset Capital Economics Alex Holmes mengatakan kepada BBC bahwa situasi di Nepal tampak jauh lebih baik daripada di Sri Lanka.