Butuh Ratusan Tahun Kemasan Makanan dan Minuman Plastik Bisa Terurai
Sumardi Ariansyah, Public and Youth Mobilizitasions dari Econusa Foundation mengatakan, penggunaan galon sekali
pakai itu akan menjadi masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
"Ini isu yang luar biasa, 2025 sudah dekat. Di 2021-2022 kita sempat kampanye tentang pengurangan galon sekali pakai. Karena dalam penelitian pun tidak begitu steril,” ujar Ari.
Sementara itu, terkait dengan rencana BPOM yang akan melabeli air minum dalam kemasan (AMDK) galon atas nama kesehatan publik, Ari kurang sependapat.
"Solusi itu tidak langsung menyentuh permasalahan inti. tidak seratus persen galon sekali pakai itu bebas atau steril dari zat-zat kimia. Daripada membuat galon sekali pakai, solusi yang tepat menurut kami adalah penyediaan water station yang disediakan pelaku industri di ruang publik seperti mall atau stasiun,” kata Ari.
Data KLHK menunjukkan baru 28,5 persen sampah plastik ke laut Indonesia yang bisa dikurangi dari 2018-2021. Ini masih jauh dari target pengurangan 70 persen di 2025. Diketahui, sampah plastik sekali pakai perlu waktu ratusan tahun untuk terurai kembali.
Belum lagi uraian plastik sekali pakai memperbesar risiko kontaminasi mikro plastik yang mencemari tidak hanya lingkungan tapi juga bagi kesehatan manusia dan hewan.
Editor: Vien Dimyati