Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perbedaan Green Tea dan Matcha yang Serupa Tapi Tak sama
Advertisement . Scroll to see content

Bersaing di Era Digital, Pengusaha Kuliner Promosi Menu Nusantara di Medsos

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 19:20:00 WIB
Bersaing di Era Digital, Pengusaha Kuliner Promosi Menu Nusantara di Medsos
Promosi kuliner Nusantara lewat digital (Foto : iNews.id/Vien)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Media Sosial (medsos) menjadi wadah bagi pengusaha kuliner untuk mempromosikan usahanya. Terutama bagi pengusaha kuliner Nusantara. Dengan berbagai konten menarik, pengusaha kuliner mengemas menu Nusantara menjadi lebih modern.

Salah satunya, yang dilakukan oleh Numalita Selpiani dan suami di Solo. Pengusaha kuliner yang menyajikan Iga Gongso 'Warung Gongso' ini memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kuliner Nusantara.

Berbekal resep iga sapi favorit keluarga yang biasa disajikan di setiap momen Idul Adha, Numalita dan suami memberanikan diri untuk membuka warung kecil di sepetak kebun yang tak terpakai. 'Warung Gongso' awalnya dipromosikan secara ‘getok tular’, dengan jumlah pelanggan yang masih terbatas.

Namun, kelezatan hidangannya akhirnya mulai tercium oleh beberapa media lokal, dan kemudian membuat warung ini semakin dikenal hingga sekarang memiliki enam cabang yang tersebar di wilayah Solo Raya.

Dipadati oleh 100-250 pelanggan dalam sehari, kekhasan dari Iga Gongso racikan Ibu Lita terletak pada pemilihan daging sapi yang sangat spesifik, dipadukan dengan cara mengolah ‘gongso’ yang autentik.

Saat ini Instagram dan Facebook menjadi andalan Ibu Lita dalam memasarkan usahanya, ke depannya dia berencana membuka outlet yang khusus melayani pemesanan online. Terobosan ini dia lakukan karena terinspirasi dari workshop yang dia ikuti di ajang kompetisi “Bango Warisan Kuliner 2019”.

Nurmalita menjadi salah satu pemenang dalam kompetisi “Bango Penerus Warisan Kuliner 2019”, persembahan Unilever Food Solutions.

Di tahun pelaksanaan yang ketiga ini, terpilih lima pemenang dengan hadiah total Rp500 juta. Mereka berhasil meraih peningkatan omzet secara signifikan dengan mengadopsi teknologi digital.

Managing Director Unilever Food Solutions, Joy Tarigan mengatakan, saat ini, jumlah total pasar layanan makanan atau foodservice di Indonesia memiliki pertumbuhan sebesar 9% per tahun, dengan nilai mencapai Rp844,35 triliun pada 2019, di mana 90% merupakan restoran independen, termasuk UMKM1.

"Kemampuan para pengusaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dapat menjadi faktor penting untuk mengembangkan bisnis mereka secara lebih signifikan. Di kompetisi ‘Bango Penerus Warisan
Kuliner 2019’ ini kami membekali para pelaku usaha kuliner mengenai pemanfaatan platform digital guna memajukan usaha sekaligus menjaga kelestarian warisan kuliner Nusantara," kata Joy di Jakarta, belum lama ini.

Pada 2019, sebanyak 15 juta pelaku UMKM, termasuk di bidang kuliner, kini sudah mulai bertransformasi ke ranah digital dengan rata-rata kenaikan omzet sekitar 80%.

Ussy Sulistiawaty selaku selebrita sekaligus pemilik usaha kuliner Bakoel Ussy serta Lurik Coffee and Kitchen mengatakan, kuliner tradisional sangat bisa untuk go digital. "Meskipun restoran saya
menjual aneka hidangan Nusantara, saya percaya bahwa promosi di platform digital saat ini tidak dapat terpisahkan dari strategi pemasaran yang saya jalankan. Selain lebih cepat dan efisien, saya juga dapat langsung berinteraksi dengan para pelanggan dan mendapatkan banyak masukan yang berharga untuk perkembangan usaha saya di masa mendatang," katanya.

Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata Vita Datau mengatakan, sebanyak 1,5 juta usaha kuliner, usahanya meningkat karena digital. Melalui digital, mereka bisa manfaatkan platform food delivery hingga medsos.

"Tetapi tak hanya digital yang dibutuhkan. Kita juga harus gunakan konten yang bagus. Meski sudah melek teknologi, perlu usaha lain. Yang namanya kulineran tak hanya memuaskan mata. Tetapi juga butuh menyentuh dan merasakan. Heritage dan tahun juga menjadi daya tarik sendiri. Makin tua makin menarik. Setelah dibeli kita makan dan bercerita. Namanya experience," kata Vita.

Menurut Vita, diperlukan kombinasi antara visual dan narasi yang kuat untuk menghasilkan content yang appealing dalam melakukan promosi di media sosial. Artinya, selain pemahaman mengenai digital marketing yang baik, para pengusaha kuliner Nusantara perlu memahami keunggulan hidangannya dan mampu menceritakannya dengan baik kepada konsumen.

"Saya mengapresiasi pelaksanaan kompetisi Bango Penerus Warisan Kuliner 2019. Ini dapat membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam mengemas dan menjual hidangan, khususnya melalui platform digital, sehingga akhirnya dapat semakin mendukung perkembangan industri kuliner di Indonesia,” ujar Vita.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut