Profil I Wayan Lanus, Sosok di Balik Resort Berkelanjutan Sanggraloka Ubud
Ketika gagasan tentang Sanggraloka Ubud mulai muncul, Lanus sudah terlibat sejak awal. Bukan karena ambisi membangun resort mewah, tetapi karena kegelisahan akan arah pembangunan di Bali yang kerap mengabaikan akar budaya dan keseimbangan alam.
Baginya, properti seharusnya menjadi medium untuk merawat ruang, bukan sekadar mengisinya.
Prinsip itu diterjemahkan melalui konsep sanctuary yang diusung Sanggraloka Ubud.
Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa budaya dan spiritualitas Bali tidak perlu dipertontonkan secara berlebihan, tapi cukup dijalani.

"Tri Hita Karana atau harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, menjadi penunjuk arah dalam setiap keputusan, dari desain bangunan hingga ritme aktivitas harian," kata Mangku.
Dia meyakini, keindahan Bali bukan hanya soal lanskap. Ada energi, ketenangan, dan makna yang tak kasatmata, namun bisa dirasakan. Karena itu, Sanggraloka Ubud dirancang sebagai ruang hening yang menghormati nilai magis Bali secara tulus, tanpa kesan artifisial.
Sebagai putra asli Bali, harapan Mangku tidak berhenti pada keindahan tempat. Dia ingin kehadiran Sanggraloka Ubud membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Keterlibatan warga lokal dalam operasional, kemitraan dengan petani dan perajin, hingga praktik keberlanjutan yang menjaga tanah dan air menjadi bagian dari komitmen tersebut.
Baginya, bisnis yang menghormati budaya dan alam justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Nilai ekonomi dan nilai kehidupan tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa tumbuh berdampingan jika dijalankan dengan kesadaran.