Melihat Karya Pelukis Disabilitas Gadis Dharsono di IFI Wijaya, Ekspresi Jiwa yang Jujur
Bukan waktu yang sebentar, karena untuk sekadar mengangkat kuas Gadis memerlukan effort yang luar biasa, serupa mengangkat dumble 5 kilogram. Ini terjadi karena keterbatasan yang dimiliki Gadis.
"Makanya, mengangkat kuas bagi Gadis perlu perjuangan tersendiri. Hasil goresannya memang jadi lebih berbeda. Garisnya jadi lebih bebas, menari tanpa sketsa," kata Kak Toto, sapaan akrab Timotius Suwarsito.
Kak Toto menambahkan, "Pameran pertama ini menunjukkan intuisi bertemu warna bahkan mengajak kita untuk masuk ke semesta paling jujur, ekspresif, dan sering tak terduga."
Hal menarik dari pameran lukisan ini adalah Gadis berkomitmen penuh untuk tetap menguatkan ekosistem disabilitas. Karenanya, Gadis menyumbangkan seluruh hasil penjualan karya lukisan untuk teman-teman disabilitas yang paling membutuhkan.
"Semoga pameran ini bukan hanya pencapaian pribadi Gadis, tapi juga menjadi pengingat bahwa manusia dengan segala kekhasannya punya hak untuk bersuara. Lewat seni, Gadis telah bersuara dan suara itu dalam segala kejujurannya," kata Poppy Dharsono.
Sebagai informasi, sejak kecil Gadis Dharsono sangat akrab dengan proses berkesenian, khususnya mode. Itu terjadi karena melihat sang ibu dalam merancang busana.
Meski begitu, perempuan pelukis berusia 28 tahun itu lebih memperdalam seni lukis. Bagi Gadis, melukis adalah bentuk kegembiraan. Karena itu, lukisan karyanya bukan semata untuk dimengerti, tetapi untuk dirasakan, sehingga sangat sentimental.
Editor: Muhammad Sukardi