Ketika Seorang Katolik Belajar Mengenal Islam di Masjid Jumeirah Dubai

Peserta tur wajib berpakaian sopan di sini. Untuk perempuan, bawalah kain penutup kepala atau scarf. Kalaupun lupa, bisa meminjam kerudung hingga abaya di sini. Sebelum masuk masjid, sepatu atau sandal juga harus dilepas.
Bagian luar Masjid Jumeirah menampilkan kubah dan menara kembar berwarna cokelat muda dengan sedikit sentuhan warna kuning. Masuk ke dalam, saya bisa melihat arsitekturnya yang indah dengan mosaik dan mural yang didominasi warna biru pastel terutama pada dinding. Namun, masjid ini juga bertabur warna-warna lain seperti cokelat, krem dan kuning.
Di tengah masjid, tergantung lampu besar yang cantik. Masjid ini juga dihiasi lampu-lampu gantung kecil, memancarkan cahaya kehijau-hijauan, kuning dan biru tosca.
Kami kemudian dipersilakan duduk di karpet dalam masjid berkapasitas 1.200 jemaah ini. Sebagian memilih duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan. Seorang pemandu perempuan bernama Tracey Latifa berdiri di hadapan kami, menyapa dengan ramah. Dia mulai dengan memperkenalkan tentang sejarah Masjid Jumeirah dan arsitekturnya.
“Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Fatimiyah yang berasal dari Suriah dan Mesir,” kata Latifa.